Puasa Mendidik Keikhlasan


Puasa  Mendidik Keikhlasan

Oleh:Sri Wahyuni

Saat ini semua orang yang beragama Islam, tua muda, rakyat atau pejabat, konglomerat atau melarat, sedang berada dalam bulan Ramadhan. Umat Islam sama-sama diikat bingkai kebersamaan, yakni bersama-sama menahan lapar dan dahaga, sama-sama menanggalkan ego jasmaniah dan hasrat  biologis mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Puasa merupakan salah satu wujud ibadah kepada Allah SWT. Dari sekian banyak ibadah, puasa merupakan ibadah yang istimewa karena puasa adalah milik Allah semata. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist Qudsi “Semua amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu kepunyaan-Ku dan Akulah yang akan membalasnya secara langsung” (HR. Bukhari).
Melalui hadist Qudsi ini, kita bisa mengetahui bahwa Allah memberikan perhatian khusus kepada ibadah puasa. Allah secara tegas memproklamasikan ibadah puasa merupakan kepunyaan-Nya, pahalanya menjadi misteri dan hanya Dia yang tahu.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa kita rela merasakan perihnya lapar dan menahan dahaga, menjaga segala keinginan, menahan semua nafsu, dan menjauhi hal-hal lain yang membatalkan puasa selama sehari penuh? Sedangkan kita tahu pahalanya masih misteri. Tidak dapat dipungkiri, sebagai makhluk yang lemah tentunya kita merasakan lapar dan haus, serta menginginkan semua keinginan bisa terpenuhi. Manusia diciptakan dalam kondisi lemah.

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah (QS. Al-Nisa’[4]:28). Salah satu kelemahan itu ialah hawa nafsu. Hawa nafsu itu bermacam-macam bentuknya, termasuk hawa nafsu untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, dan kebutuhan biologis. Selama kita bernafas, selama itu pula hawa nafsu akan tetap bekerja. Hawa nafsu tak pernah diam sebagaimana permukaan laut yang tak pernah statis.

Selama puasa kita berusaha melawan hawa nafsu, menahan lapar dan dahaga serta menunda semua keinginan. Sedangkan kita bisa makan dan minum sesuka kita secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orang. Kita bisa memenuhi semua keinginan kita tanpa ada orang yang melihatnya.

Jawabannya, karena kita memiliki kesadaran bahwa ibadah puasa yang kita lakukan ini adalah milik Allah, sehingga kita ikhlas melakukannya untuk mencari ridho-Nya semata. Inilah salah satu hikmah besar puasa, yakni mendidik keikhlasan. Ikhlas dalam ranah puasa berarti kita ikhlas menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh karena Allah semata dan demi meraih ridho-Nya. Bukan karena ingin dilihat orang, dipuji orang, disegani orang, atau hal lain.

Sebagai manusia kita akan kesulitan untuk menilai puasa diri sendiri maupun orang lain. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Namun, jika seseorang itu benar-benar berpuasa karena Allah, itu merupakan gambaran tentang keikhlasan yang ada dalam hidupnya. Jika dia berdisiplin dengan puasanya, maka rasa takut kepada Allah akan senantiasa tumbuh dalam jiwanya. Puasa yang ikhlas akan melahirkan manusia yang ikhlas dalam kehidupannya.

Akhirnya, semoga Allah, Ar-Rasyid, Tuhan Yang Maha Mendidik berkenan mendidik kita agar kita bisa merasakan indahnya keikhlasan, sehingga sekecil dan sesederhana apapun perbuatan yang kita lakukan tetap memunyai nilai di hadapan-Nya. Amin.
***
  

0 Response to "Puasa Mendidik Keikhlasan"

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.