728x90 AdSpace

Latest News
Monday, 5 June 2017

Ketika Puisi Menjadi Jalan Mengingat Tuhan


Berbicara mengenai sastra terlebih puisi hakikatnya menguak suatu masa yang terendam dalam bait-bait bahasa ekspresif dan imajinatif. Terlebih merasuk dalam hati makna yang terkandung di dalamnya, hakikat kemampuan memahami unsur fiktif menjadi bagian yang sangat perlu untuk diperhitungkan.

Jika prosa (macam cerpen dan novel) berbicara mengenai pendiskripsian yang detail mengenai objek tertentu, mengenai tokoh tertentu, mengenai peristiwa tertentu. Berbeda dengan puisi, yang lebih kepada penanaman makna yang padat dan khusus.

Membaca kumpulan puisi Jalan ini Rindu terasa kembali menjajaki lurung waktu yang tersembunyi mengenai jalan-jalan ruhani yang dikemas dalam ikon, indeks, simbol-simbol penting dalam larik imajinatif penyairnya. Sekaligus, bagi penikmat puisi unsure-unsur tersebut merupakan bagian yang harus untuk dipahami sebagai bekal awal mendalami puisi yang berirama imajinatif dan mendalam.

Sejalan hal itu, puisi Jalan ini Rindu yang ditulis oleh seorang pengasuh Pondok Pesantren di Situbondo ini nampak tidak semata bentuk luapan ekspresif, lebih dalam semacam dakwah hati yang menuntun pemaknaan pada lembah tafsir hakiki. Bahkan sekaligus sebagai jalan kemanusiaan untuk melahirkan kelembutan hati juga samudra rasa yang begitu dalam dari perjalanan ruhaninya menemukan ilmu. 

Buku yang lahir atas dasar permuaraan batin menjajaki lembah religius ini juga semacam guru hati yang jika di dalami makna diksi, lirik juga baitnya adalah sekumpulan peristiwa penting dalam kehidupan yang hakiki. Bahkan menurut Sutejo, seorang budayawan yang juga penikmat puisi, setelah membaca Jalan ini Rindu menemukan sebuah makna mendalam, “bahwa puisi Jalan ini Rindu serupa perjalanan ruhani dalam pendakian menembus ruang waktu, berumah  dalam rentang penghambaan Sang Penyair”
Sang penulis tidak saja memainkan unsur konotatif biasa dalam setiap diksinya, melainkan pilihan diksi terasa ada jalan tawakal mendalam untuk merenungi lebih dalam, sehingga ada aroma kedalaman dzikir yang disuguhkan kepada pembaca mengenai ruang hati untuk mengingat pada Dzat Sang Kuasa.

Seperti puisi “Cakrawala Basmallah” misalnya yang sejatinya menyuguhkan lafad basmallah sebagai empu makna terdalam. Dalam istilah D. Zamawi Imron, serupa tempat segalanya memulai. Macam kehidupan ini yang sejatinya dimulai dari sebuah butiran kecil (titik). Titik yang mengurai dan menyambung membentuk garis, kemudian berkembang berbentuk bidang. Sama halnya lafad basmallah yang tidak lain sebagai jalur mengingat asal muasal lahirnya kehidupan.

Dalam larik pertama dan kedua, penulis mengangkat diksi “langit” dan “bumi” yang keduannya di sandingkan dengan basmallah. Inilah yang kemudian penggunaan dua diksi serupa maujut Tuhani atas kehidupan ini. Sebab, langit dan bumi adalah unsur terbesar dalam kehidupan ini, begitu juga dengan Tuhan yang maha besar. Jika dipahami secara umum, puisi ini membicarakan permuaraan alam untuk mengingat mengenai asal muasal kehidupan kita, agar senantiasa tidak melupakan mengenai kebesaran Tuhan yang selanjutnya menjadi jembatan menuju keimanan sejati.

Atau pengembaraan melalui puisi “Taman Rusaifah” yang tidak lain juga bermuara pada jejak Sang Penulis ketika berada di Makkah. Puisi ini juga demikian dalam mengajarkan makna religius. Makna tersebut dapat dilihat pada bait pertama, //Di taman Rusaifah/  pohon-pohon tumbuh/ berakar tasbih/ berdahan tahmid/ berdaun tahlil/ berbuah takbir//. Melalui bait-bait tersebutlah kita bisa merasakan bagaimana aura batin religus begitu kuat tertanam di setiap diksinya. Penggunaan frase “pohon tumbuh” yang selanjutnya disinambungkan dengan tahmid, tahlil, dan takbir ini tidak lain mengisyaratkan akan ajaran mengingat, ajaran beriman, dan ajaran kembali kepada Sang Pencipta.

Diksi “pohon” tumbuh ini memetaforkan pada maujud raga manusia, kemudian juga dikaitkan dengan unsur pohon, yakni akar, dahan, daun juga buah sebagai simbolis jiwa manuisa. Jika dipahami secara keseluruhan serupa jiwa dan raga yang menumbuhkan sendi-sendi keimanan dan mengingat lahiriah diri atas Sang Pencipta. Sedangkan tahmid, tahlil, dan takbir adalah seruan yang biasa dilakukan untuk menghamba pada Sang Kuasa, juga sekaligus menyadarkan akan kebesaranNya.

Meski di sisi lain bagi penikmat puisi yang masih awam sulit untuk memahami puisi ini yang memang beraroma ajaran dalam, tetapi puisi Jalan ini Rindu tidak semata diartikan sebagai puisi terbatas (sisi penikmatnya) hanya kalangan tertentu. Tetapi memang itulah, sejatinya puisi Jalan ini Rindu menyuguhkan sesuatu yang berbeda kepada pembaca. Selain dari puisinya yang tidak semata lahir atas dasar fikir atau ekspresif saja, tetapi lebih dari itu menyair menyinambungkan dengan wawasan hati dan rasa religius yang mendalam, sehingga sarat akan pemahaman religiusnya. Untuk itu tanpa ikhtiar sekaligus kedalaman hati yang tinggi, akan terasa sulit menemukan sari makna yang terkandung di dalamnya.

Namun, lepas dari itu puisi Jalan ini Rindu, serupa ajaran kehidupan religius yang dikemas dalam lembar keabadian –kumpulan puisi—.  Puisi ini sekaligus mengingatkan pada peran puisi dari masa ke masa yang selalu berkembang sesuai kebutuhan sosial. Seperti puisi Jalan ini Rindu yang bisa dijadikan jalan dakwah yang pengaruhnya luar biasa menyentuh. Sebab langsung menyentuh hati. Semoga Jalan ini rindu, menjadi perantara Tuhan kepada pembaca (umatnya) untuk mengingat dan merindukan kuasannya di jalan keimanan yang dalam.

Oleh : Nanang Eko Saputro
Penulis: Tinggal dan lahir di Ponorogo, aktif sebagai pengurus Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo, juga Pengurus Rumah Baca Sutejo Sepectrum Center (SSC) Ponorogo.

Identitas Buku:
Judul        : Jalan ini Rindu
Penulis        : W.A.A. Ibrahimy
Penerbit    : Penerbit Ibrahimy Press Sukorejo Situbondo.
Terbit        : Cetakan Pertama Januari 2017
Tebal        :  xvii+169 hlm         
ISBN        : 978-602-72659-8-1
   
****







  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Item Reviewed: Ketika Puisi Menjadi Jalan Mengingat Tuhan Rating: 5 Reviewed By: Sinar Rakyat