728x90 AdSpace

Latest News
Friday, 2 June 2017

Antara Kognitif, Psikomotorik, dan Afektif

Munif Chatib dalam buku Gurunya Manusia (Kaifa Learning, 2011) mengungkapkan bahwa kemampuan seseorang adalah bahan bakar untuk kesuksesannya. Ungkapan demikian menegaskan bahwasannya kesuksesan seseorang salah satunya ditentukan oleh kemampuan mereka. Semakin baik kemampuan yang mereka miliki maka kesuksesan akan semakin cepat tercapai.

Menurut Thoha (2005:29) kemampuan merupakan salah satu unsur dalam kematangan berkaitan dengan pengetahuan atau keterampilan yang dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan dan suatu pengalaman. Dalam dunia pendidikan kemampuan memiliki makna yang luas. Sebagaimana taksonomi yang dirumuskan oleh Benjamin S.Bloom, kemampuan  seseorang itu terbagi menjadi tiga yaitu: (i) kemampuan kognitif, yang menghasilkan keterampilan berpikir, (ii) kemampuan psikomotorik, yang menghasilkan kemampuan berkarya, dan (iii) kemampuan afektif, yang menghasilkan kemampuan bersikap. Taksonomi yang dicetuskan oleh Bloom ini senada dengan ungkapan Ki Hajar Dewantara yaitu: cipta (kognitif), rasa (afektif) , dan karsa (psikomotorik).

Dalam dunia pendidikan, tenaga pendidik atau guru sering kali menyalah artikan konsep kemampuan karena mereka hanya memahaminya dalam arti sempit. Padahal, kemampuan itu maknanya sangat luas. Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa kemampuan itu dibagi menjadi tiga jenis. Dari tiga jenis kemampuan tersebut masing-masing memiliki cangkupan sendiri-sendiri. 

Guru sering terjebak dalam mengukur kemampuan anak. Hal yang paling sering dilakukan mereka hanya mengukur dalam satu arah, yaitu ranah kognitif. Hal ini tidak dapat dipungkiri, sebab realitanya kemampuan kognitif merupakan satu-satunya kemampuan yang dapat didokumentasikan secara nyata dalam bentuk rapor. Rapor inilah yang nantinya  menjadi acuan guru dalam memberikan label kepada anak didiknya. Antara baik atau buruk, antara pandai atau tidak. Anak yang nilai kognitifnya tinggi, itulah anak yang dianggap baik dan pandai, begitu pula sebaliknya. Pertanyaannya, bagaimana dengan kemampuan psikomotorik dan afektif siswa?

Kemampuan psikomotorik ialah kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan yang menghasilkan kemampuan berkarya, misalnya saja kemampuan anak melakukan presentasi, menulis, atau membaca puisi. Selain itu, kemampuan anak yang dapat dilihat secara fisik, misalnya pandai bermain bola, voli, atau bulu tangkis. Kemampuan anak dalam menyelesaikan pekerjaan keterampilan dan berbagai kreativitas juga termasuk di dalamnya. Namun sayang, kemampuan anak dari segi psikomotorik jarang sekali menjadi acuan guru dalam menentukan pandai tidaknya seorang siswa.

Ketika ada siswa yang mampu menghasilkan sesuatu yang beda, guru akan memarahi dan menganggap siswa itu nakal. Misalnya, ketika ada yang mampu merubah tatanan ruang kelas, sehingga ruang kelas menjadi tampil berbeda dari biasanya. Maka guru akan bertanya, “Siapa yang merubah tatanan ruang kelas ini? Ruang kelas itu untuk belajar. Jadi tidak usah dibuat aneh-aneh.”

Padahal, jika kita mau memahaminya dengan saksama tujuan anak merubah tatanan ruang kelas ini merupakan salah satu wujud kreativitas mereka. Mungkin, mereka jenuh dan ingin menciptakan suasana baru. Guru boleh memberikan kritikan, tapi jangan sampai menyinggung perasaan anak. Karena bagaimanapun mereka memunyai hak untuk menciptakan kreativitas.

Kemampuan psikomotorik sering kali terabaikan. Padahal, hampir 90% pengalaman belajar yang paling diingat anak adalah yang berkaitan dengan aktivitas psikomotorik. Misalnya, ketika anak  tampil mementaskan tentang detik-detik proklamasi Republik Indonesia. Maka secara tidak langsung mereka akan mengingat hal-hal yang berkaitan dengan proklamasi Republik Indonesia tanpa harus menghafal. Anak jarang sekali mengingat pengalaman belajar atau ketika ulangan sebuah mata pelajaran. Hal ini membuktikan bahwa hal yang membekas di ingatan anak adalah aktivitas belajar yang termasuk dalam kemampuan psikomotorik. Sayangnya, kemampuan psikomotorik sering dikesampingkan oleh para guru kita.

Selain kemampuan psikomotorik, kemampuan lain yang sering diabaikan guru adalah kemampuan afektif. Kemampuan afektif ialah kemampuan yang menghasilkan kemampuan bersikap. Kemampuan ini mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Dalam dunia pendidikan, kemampuan afektif jarang sekali terekam menjadi sebuah kompetensi. Ketika ada anak yang kritis atau bisa dibilang agak cerewet maka guru akan memberikan label yang jelek pada anak tersebut.

Meskipun kritikan anak itu sebenarnya baik, tetapi di mata guru tetap saja jelek. Karena, ada sebagian guru yang tidak suka dikritik, apalagi dikritik oleh anak didiknya. Anak yang pandai bagi guru adalah anak yang menurut dengan apa yang dikatakannya, tidak pernah mengkritik, tidak pernah bertanya, dan tidak banyak memprotes. Sesungguhnya, anak yang kritis merupakan salah satu wujud dari kemampuan afektif. Setiap anak pasti memiliki perasaan, sikap dan emosi. Sikap kritis merupakan salah satu wujud nyata dari ketiga sifat tersebut. Masalah afektif sejatinya merupakan masalah yang penting bagi anak, namun implementasi yang dilakukan guru masih kurang. Hal ini karena menilai kemampuan afektif memang sulit.

Kesuksesan siswa tidak bisa lepas dari kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan itu ibarat bahan bakar yang siap membakar semangatnya untuk mencapai kesuksesannya. Kemampuan itu tidak mampu menjadi bahan bakar jika tidak ada yang mengolahnya. Salah satu orang yang mampu mengolahnya yaitu guru. Oleh karena itu guru harus mampu mengolah kemampuan anak dengan sebaik-baiknya. Guru harus mampu memandang kemampuan para siswa secara lebih luas, berdasarkan tiga kemampuan yakni  kognitif, psikomotorik, dan afektif secara proposional. Sehingga anak bisa mencapai kesuksesannya dengan lebih mudah.  
***

Oleh: Sri Wahyuni
Penulis adalah Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo. 
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Item Reviewed: Antara Kognitif, Psikomotorik, dan Afektif Rating: 5 Reviewed By: Sinar Rakyat