728x90 AdSpace

Latest News
Sunday, 7 May 2017

Angin Segar untuk Guru

Angin Segar untuk Guru
Oleh: Sri Wahyuni

Guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 

Begitulah pengertian guru sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dari uraian tersebut, kita tahu bahwa tugas guru begitu berat. Terlebih lagi saat ini guru memiliki berbagai tantangan dalam melaksanakan tugasnya. Salah satu tantangan tersebut berkaitan dengan lemahnya perlindungan terhadap guru.

Di Indonesia, perlindungan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan masih sangat kurang. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai kasus guru-guru yang mendapat perilaku secara tidak manusiawi.

Seperti diketahui sederet kasus melibatkan guru saat menjalankan tugasnya sempat mewarnai media masa sepanjang 2016. Masih belum lekang dari benak kita tentang kasus Dasrul yang terjadi pada Agustus 2016 lalu, kisah ini sempat menjadi viral di media sosial. Dasrul adalah seorang guru SMKN 2 Makasar yang wajah dan baju putihnya berlumuran darah akibat dikeroyok oleh siswa dan orang tua siswa gara-gara tidak terima anaknya dijatuhi sanksi.

Masih pada 2016, tentang kisah Sambudi, guru SMP Raden Rahmad, Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur yang dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa karena tidak terima anaknya dicubit. Tidak hanya itu, di Ponpes Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Sebanyak 114 guru diberhentikan secara sepihak dari pesantren pimpinan Panji Gumilang.

Beberapa kasus di atas akhirnya memantik keprihatinan pemerintah. Sebab kekerasan terhadap guru semakin meluas. Keprihatinan itu diwujudkan dengan terbit dan berlakunya Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 10 Tahun 2017 tentang Perlindungan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang berlaku mulai Maret ini. Secara umum ada empat jenis perlindungan yang diatur dalam Permendikbud tersebut, yakni meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan hak atas kekayaan intelektual.

Pertama, perlindungan hukum meliputi perlindungan dari tindak kekerasan, ancaman, perilaku diskriminasi, intimidasi, dan perlakuan tidak adil.

Kedua, Perlindungan profesi meliputi perlindungan atas PHK yang tidak sesuai dengan peraturan, pemberian imbalan tak wajar, pembatasan dalam penyampaian pandangan, serta pembatasan dan pelarangan lain yang bisa menghambat dalam menjalankan tugas.

Ketiga, Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja meliputi perlindungan dari gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan risiko lain.

Keempat, perlindungan hak atas kekayaan intelektual meliputi hak cipta dan hak kekayaan industri. 

Sebenarnya aturan perlindungan guru sudah tercantum di UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam UU No.14 tahun 2005 pasal 4 ayat 1 dijelaskan tentang hak dan kewajiban guru. Hak-hak tersebut meliputi hak memeroleh penghasilan, hak memeroleh perlindungan, dan hak memeroleh rasa aman.

Selain itu, dalam pasal 39 ayat 1 juga dijelaskan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, masyatakat, organisasi profesi, dan atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam melaksanakan tugas. Namun, sayangnya belum ada produk hukum di bawahnya yang mengatur pelaksanaanya secara detail sehingga isi pasal ini belum terlaksana dengan maksimal.

Seringkali guru berada dalam posisi dilema. Bagaimana tidak? Tugas utama guru adalah mendidik. Mendidik di sini bukan berarti hanya mendidik anak tentang materi pelajaran tapi juga mendidik anak tentang semua hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupannya. Hal ini tentu tidak mudah, apalagi mengingat anak didik yang memiliki berbagai jenis kepribadian. Anak yang menurut dan mudah diatur apa pula yang bandel dan sulit diatur. Untuk mengatasi anak tipe kedua tentunya diperlukkan tindakan yang tegas, salah satunya berupa hukuman atau sanksi. Namun saat akan memberikan hukuman, guru harus berpikir dua kali. Memikir, hukuman apa yang tepat agar tidak menimbulkan salah faham antara guru, siswa, dan orang tua siswa. Karena kebanyakkan kasus kekerasan guru di Indonesia dilatabelakangi pemberian hukuman oleh guru kepada siswa kemudian pihak orang tua tidak terima.

Dengan berlakunya Permedikbud tentang perlindungan pendidik dan dan tenaga kependidikan ini, diharapkan guru bisa lebih tenang dalam mengajar tanpa dihantui oleh rasa was-was dan takut. Sehingga anak didik yang dihasilkan pun bisa benar-benar berkualitas. Jika peraturan baru ini bisa berjalan dengan baik tentu akan membawa dampak yang luar biasa bagi 3,2 juta guru di Indonesia yang terdiri dari 1,7 juta PNS dan 1,5 juta guru swasta/non PNS.

Namun, para guru harus ingat bahwa dengan keluarnya peraturan ini guru tidak boleh sewenang-wenang dalam memberikan sanksi kepada siswa, terlebih lagi jika guru menghukum siswa dengan dalih Permendikbud ini. Dalam dunia pendidikan, sanksi memang perlu diberikan, namun sanksi harus diberikan dengan bijak dan tidak boleh sembarang, sehingga tidak menimbulkan pertikaian antara guru, siswa, dan orang tua siswa.
***

**Penulis adalah Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo. 


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Item Reviewed: Angin Segar untuk Guru Rating: 5 Reviewed By: Sinar Rakyat