728x90 AdSpace

Latest News
Tuesday, 25 April 2017

Saatnya Pemimpin Ibu Kota Bekerja


Politik adalah seni memilih agar apa (dan siapa) yang dipilih itu bisa mengolah atau mengelola sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin—Otto Von Bismarck (1815-1898).
Pemilihan dan pemungutan suara pilkada DKI Jakarta tahun 2017, telah berakhir pada Rabu (19/4) kemarin. Hasil hitung cepat (quick count) putaran kedua, sejumlah lembaga menunjukkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno lebih unggul 58% atas pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, yaitu 42%. Peran serta warga Ibu kota itu, telah menunjukkan hak konstitusionalnya. Yaitu menentukan pilihan atas dasar keyakinan dan nalar sehat bahwa yang dipilih adalah pemimpin yang memihak kepada kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial.

Ibaratnya, pemimpin adalah supir. Di mana selalu berada di depan untuk menggerakkan penumpangnya (rakyat). Sebagai supir, hendaknya selalu bersikap dan bertindak hati-hati. Apapun yang dikatakan dan dilakukan supir harus benar—tidak boleh menjerumuskan sampai merugikan hingga berdampak buruk bagi rakyat di bawahnya. Sebagaimana yang digambarkan John C. Maxwell (2008), kualitas pemimpin bisa dilihat dari kekuatan karakter, komitmen, dan komunikasi. Kekuatan karakter dan komitmen ditandai dengan menyatunya perkataan dan tindakan. Berjalan di atas komitmen akan meninggalkan rekam jejak yang riil, nyata, dan dapat dirasakan pihak manapun. Sedangkan komunikasi, dapat dilihat dari personal branding komunikasi yang apa adanya, otentik, tidak dibuat-buat, dan tidak menipu publik. Kaitannya dengan komunikasi, media kita secara umum sudah tercemar virus hoax (berita bohong). Sebagai pemulihan kepercayaan dan keperhatian rakyat, komunikasi diharapkan berkutat pada hal-hal yang bersifat positif. Sehingga, yang namanya pembohongan, penipuan, dan lainnya akan terminimalisir secara perlahan, meski tidak mampu tuntas hingga akar-akarnya.

Jakarta adalah Ibu kota Indonesia. Sebagai Ibu kota, daerah ini menjadi pusat kota (city center) yang acapkali dijadikan kunjungan utama bagi para wisatawan domestik. Dalam rangka mendukung kenyamanan dan ketentraman wilayah center ini, Jakarta membutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar siap untuk mengubah dan membangun paradigma baru bagi negara. Satu per satu pembangunan dirancang sebaik mungkin, gerakan perbaikan baik jalan utama, tol, kompleks industri dan lainnya untuk segera dilakukan pembenahan. Sebab, keberhasilan sebuah kepemimpinan dalam era ini dilihat dari tingkat pembangunan secara fisik. Seperti halnya sifat manusia yang menilai sesuatu dari sampul depan (cover). Apabila tampilan depan wilayah ibu kota baik, terarah, dan terukur maka wilayah lainnya pun dinilai secara keseluruhan demikian.

Tak muluk pemimpin yang berinovasi soal pembangunan, melainkan membutuhkan pula pemimpin yang memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah-masalah faktual, yang benar-benar memahami secara detail persoalan rill untuk dibahas, diurai, dianalisis, dan dipecahkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Viva activa dari Hannah Arendt, menyiratkan amanah bahwa segala bentuk aktivitas pemimin tidak boleh diorientasikan untuk kepentingan pribadi, tetapi kepentingan bersama dalam kehidupan plural. Memimpin ibu kota dengan beragam masalah, perlu adanya keberanian, berkorban, dan bertarung di medan laga. Bukan sekadar duduk mengambil keputusan tanpa melihat dan memantau sendiri konflik yang tengah mengancam masyarakat juga negara.

Ungkapan, janji adalah hutang, maka harus dibayar, bukanlah cukup ungkapan yang sederhana. Siapapun yang telah berjanji maka harus ditepati. Ungkapan tersebut, nampaknya tepat sekali ditujukan kepada pemimpin baru DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Sebagaimana visi, misi, dan program yang pernah mereka janjikan saat kampanye harus dapat dijalankan, dilaksanakan, dan dijabarkan secara tuntas langsung di hadapan warga sebagai bukti pemimpin yang terpilih. Bukan seperti peribahasa, tong kosong berbunyi nyaring.

Anies, saat di markas DPP Gerindra berjanji bahwa akan meneruskan mimpi menghadirkan persatuan di Jakarta yang mengikat persatuan. Selain itu, dia juga berjanji akan menjaga kebhinekaan, menjadi gubernur untuk semua golongan di Jakarta, dan fokus mengerjakan program-program kerja yang mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh warga ibu kota. Sedang, Sandiaga Uno, mengungkapkan akan mengumpulkan lagi mereka yang tercerai berai, merajut lagi apa yang telah terkoyak, dan menyatukan lagi apa yang sudah terpecah belah demi Jakarta.

Luar biasa. Janji yang menggeratarkan hati. Akankah pemimpin baru kita dapat mewujudkan semua janji-janjinya? Atau mungkin, sekadar janji untuk meluluhkan hati warga untuk memilihnya? Dua pertanyaan tersebut, akan tercapai manakala pemimpin baru kita dapat bekerja sebagai wujud dari eksistensinya. Bukan sekadar kaya retorika, tetapi miskin tindakan. Kalau saja, hanya mengunggulkan kepandaian memoles citra dan bermain piawai retorika, semua orang pun bisa. Tidak pun harus orang berpendidikan. Karenanya, pemimpin yang diharapkan warga adalah pemimpin yang mampu bekerja dengan sepenuh hati, bersandarkan kejujuran, ketulusan, kebenaran, dan antikorupsi sebagai nilai-nilai keteladanan yang positif.

Pesan singkat untuk pemimpin baru, saatnya mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Melalui kerja sama baik, antara pemimpin dan masyarakat negri. Mari, membangun dan mengubah tatanan hidup yang lebih baik!

Oleh: Suci Ayu Latifah

Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP PGRI Ponorogo.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Item Reviewed: Saatnya Pemimpin Ibu Kota Bekerja Rating: 5 Reviewed By: Sinar Rakyat