Strategi Membunuh Manusia Kopong

SinarRakyat.Com | Luar biasa. Kampus swasta yang terletak di Jalan Ukel Nomor 23 Kertosari Babadan Ponorogo, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Ponorogo, Minggu (12/1) lalu, diramaikan oleh calon penulis hebat, kurang lebih terkumpul 200 orang. Mereka umumnya tergolong SMP, SMA, mahasiswa, guru, dosen, dan umum wilayah Ponorogo dan sekitarnya.

Sutejo, salah seorang dosen STKIP PGRI Ponorogo, sekaligus Ketua Suku Adat SLG mengaku bangga melihat antusias masyarakat kota Ponorogo untuk belajar dunia literasi. Baginya, masyarakat harus dibekali oleh pengetahuan literasi. Karena, hakikatnya literasi adalah proses kesadaran dan kepekaan diri untuk membentengi tsunami informasi.

“Rendahnya literasi berpotensi menjadi ladang hoax,” kata Sutejo.

Kemarin, minggu kedua bulan Februari, kampus yang terkenal dengan kampus literasi dengan program unggulan selama satu tahun itu sudah berjalan di angkatan kelima. Program Sekolah Literasi Gratis (SLG), kali ini menghadirkan dua pemateri hebat dalam bidanganya masing-masing. Hernowo Hasim, atau biasa disapa Hernowo, seorang penulis buku nasional best seller asal Bandung, dan guru SMA Kolase De Britto, juga penulis buku Guru Gokil Murid Unyu (2013), J Sumardianta.

Saat memberikan materi, Hernowo mengatakan, literasi merupakan sarana untuk memperbaiki komunikasi. Artinya, manusia dalam berkomunikasi dalam bentuk apapun, seperti komunikasi lewat jaringan internet ataupun antarmulut setidaknya harus cerdas dalam mengolah informasi.

“Manusia itu seperti pisau yang lama tidak dipakai,” sindir lelaki kelahiran Magelang itu.

Menurutnya, manusia yang hidup di zaman digital, rata-rata menjadi budak literasi. Mereka hidup sebagai penikmat informasi yang terpublish di publik dengan mentah-mentah. Mereka dengan mudah menerima informasi yang masuk tanpa menyerap, memaknai, dan memahami secara detail. Hal ini terjadi, karena kepandaian teknologi informasi digunakan tidak pada mestinya. Semua informasi dilahap tanpa pemaknaan dan pemahaman, sehingga manusia pengetahuannya dangkal atau tumpul, layaknya pisau yang lama tidak dipakai.

Pernyataan di atas, didukung J Sumardianta, yang mengatakan, masyarakat Indonesia seperti anak balita. Mereka mudah sekali dipengaruhi berbagai informasi yang masuk tanpa memerlukan proses filteralisasi.

“Namanya juga anak-anak. Tapi anak-anak yang ini adalah anak yang tergolong tua,” celotehnya saat memberikan materi literasi.

Tak cukup berbicara soal literasi, kedua pemateri tersebut juga memberikan cakupan literasi dasar, yaitu baca dan tulis. Kegiatan baca-tulis adalah proses menuju kematangan diri. Membaca dan menulis bagi Hernowo adalah kegiatan mengisi memori di otak. Permasalahannya, orang jawa menjuluki masyarakat kita “manusia kopong”

“Otak terlihat berisi, tapi isinya kosong. Seperti pepatah, tong kosong berbunyi nyaring,” jelas penulis buku Mengikat Makna itu.

Sedangkan menulis bagi Sumardianta adalah berbagi ilmu bermanfaat untuk orang lain. Baginya, menulis hanya ada tiga alat, yaitu sesuai apa yang dirasakan, dialami, dan dilihat.

Suasana tegang namun seru SLG hari itu, mendapatkan apresiasi luar biasa dari peserta. Satu per satu peserta bergantian mengajukan pertanyaan. Salah satunya, guru SMA N 1 Kauman, Astin, “Bagaimana cara menulis dengan mudah tanpa beban?”

“Menulislah mengalir dari pikiran sendiri,” jawab Hernowo singkat.

Pihaknya kemudian menambahkan, sukai dulu tulisan agar tidak menjadi beban ketika menulis. Hal ini dapat dilakukan dengan teknik mencicil, yaitu menulis sedikit demi sedikit. Kemudian, tulislah sebebas-bebasnya seluruh pikiran yang terlintas di benak tanpa menggunakan logika. Logika digunakan setelah semua pikiran telah tertuangkan.

Di puncak program rutin setiap minggu itu, tak lupa Ririen, dosen sekaligus panitia SLG meminta kepada peserta untuk berfoto kepada pemateri. Pihanya juga mengingatkan bahwa program ini tidak berhenti hari ini saja, tetapi masih ada minggu-minggu selanjutnya hingga bulan Agustus 2017 kelak.

“Sekolah literasi gratis, Yes success!” seru Ririen mengakhiri pembelajaran literasi.

(Suci Ayu Latifah)

0 Response to "Strategi Membunuh Manusia Kopong"

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.