Air Bagi Sumiati


Air Bagi Sumiati
Cerpen Karya: Suci Ayu Latifah

Asap putih tipis terbang melepaskan diri dari dua tungku di pekarangan rumah Sumiati. Biasa orang di kampungnya menyapa dengan Sumi atau Ati. Hanya sesaat setelah embun pagi menguap, tungku-tungku batu bersusun itu telah membakar kuali seukuran tampah berisi racikan bumbu, kelapa yang sudah diperas, daging sapi, dan seperniknya.

    Pagi itu, Sumiati hendak memasak rendang. Makanan kesukaan anaknya. Tangan lincah ke-ibuan dengan sigap menghaluskan bumbu rendang pada cobek yang terbuat dari batu. Wajahnya berbinar-binar. Namun, sesekali Sumiati menghela napas berat beberapa waktu. Aku tidak tahu apa yang tengah ia rasakan ketika itu. Mungkin rasa lelah mulai menjalar di setiap ruas-ruas sendinya, sehingga tercipta punuk unta di balik baju tipis, sedikit kusam tak layak dipakai. Banyak jahitan di sana-sini. Mulai dari lengan baju, bahu kanan, jahitan samping, hingga kancing bajunya hilang satu per satu.

    Rumah Sumiati bersebelahan dengan rumahku. Hanya saja berbatas lahan empon-empon miliknya. Jahe, kencur, lengkuas, temulawak, kunyit, semua ada di situ. Sebelah kanan rumahnya terdapat pohon cersen yang hampir menutupi rumah, karena begitu subur dan lebat pohon itu.

Sejuk. Di bawah pohon itu, biasa aku dan anaknya bermain bola kasti. Terkadang pula bermain masak-masakan dari kaleng susu diberi sedikit air, lalu potongan umbi ketela rambat kami masak dengan sederhana.

    Kemudian, sebelah kiri rumah Sumiati, ada beberapa potongan bambu dan kayu bakar. Tak hanya itu, di belakang rumah juga terdapat beberapa tumpukan kayu bakar kering. Sengaja ia mengumpulkan kayu dalam stok banyak. Bukan untuk dijual atau sebagai pemandangan semata di gubuk tua itu. Namun, karena akan tiba musim hujan. Jadi Sumiati harus ada persiapan kayu kering dalam jumlah yang membeludak itu.

    “Man, sudah siang. Bangunlah beri makan ayam-ayam, Kau!” Suara Sumiati melengking memecahkan kabut pagi.

    Setiap pagi, ketika aku hendak mandi di belakang rumah. Sumiati selalu berteriak seperti itu. Meskipun tidak ada jawaban setiap paginya, tanpa lelah dan jemu Sumiati selalu berteriak demikian. Entah sadar atau tidak. Aku tidak tahu persis ketika itu. Akan tetapi, ketika itu ia dalam keadaan sadar. Bukan alam bawah sadarnya yang muncul seperti hari-hari sebelumnya.

    “Man, bangun. lihatlah ayam kau menangis minta jatah makanan!” kembali Sumiati berteriak suatu hari.

    Sama. Tidak ada jawaban. Tiba-tiba terdengar suara piring melayang keras pada lantai berbata Sumiati. Aku yang di depan kamar mandi, sontak terkejut. Aliran darahku seakan-akan mengepul di ubun-ubun, serasa akan meledak membanjiri daratan. Tangan serta kaki ini gemetaran beberapa saat. Tingkah Sumiati dari hari ke hari makin kelewatan. Bila saja ini terus berlanjut, besar kemungkinan barang-barang di rumahnya hancur sia-sia. Jangankan barang-barang kecil. Rumahnya pun bisa jadi dirobohkan.
    “Sumiati, Sumiati!” gumamku dalam guyuran air tandon.

***
Prihatin. Satu tahun yang lalu, Sumiati hidup sederhana dalam keluarga sederhana pula. Pekerjaanya sebagai buruh cuci, tidaklah mampu mencukupi kebutuhan hidup. Di zaman seperti ini semuanya mahal. Peralatan dapur mahal. Perabot rumah tangga mahal. Bahan makanan mahal. Tagihan listrik naik, begitupula dengan biaya sekolah anaknya. Karena keterhimpitan dan terpojoknya keadaan itu, suami Sumiati, Kang Parjo merantau ke Pulau tetangga. Pulau Kalimantan Timur lengkapnya.

Siang itu, Kang Parjo melangkahkan kakinya memasuki awak kapal. Kapal berukuran cukup besar dengan jumlah tempat duduk sekitar 100 buah. Satu per satu penumpang kapal mulai menempati kursi-kursi kosong. Kang Parjo duduk di antara mereka, merasakan ayunan lembut ombak yang datang tanpa jeda. Perjalanan untuk mencari nafkah, demi anak dan istri pun di mulai.
Kapal berlaju semakin jauh meninggalkan daratan. Ombak besar semakin terasa. Jantung Kang Parjo berdegub kencang. Ia memikirkan jika nanti akan terjadi suatu kejadian besar. Kang Parjo duduk dengan tak tenang. Kegelisahan menyelimuti pikirannya. Matanya terpejam bersama kegelisahan dan ketakutan sembari tak lelah bibirnya komat-kamit. Entah apa yang dilantunkan. Doa atau mantra atau tembang-tembang Jawa guna memalingkan pikiran negatif itu.

    Ombak setinggi dua meter menggegerkan seluruh penumpang kapal. Mereka terpontang-panting terbawa ayunan ombak itu. Kang Parjo masih seperti tadi. Tiba-tiba, adabeberapa penumpang berteriak histeris. Seketika itu pula, wajah Kang Parjo memerah. Otaknya kalang kabut. Darahnya seakan-akan berhenti di tempat. Disusul jantungnya pun naik-turun tak beraturan. Dan, ia mulai panik berlarian tak tentu arah.
    “Air... air... air...”
    “Hancurlah kita! Air laut masuk. Matilah riwayatku!”

    Semua mulut terbuka. Ramainya waktu itu layaknya Perang Dunia Ketiga. Ketakutan menjadi satu. Hari itu nyawa adalah taruhan. Kang Parjo mencoba mengambil baju pelampung di bawah tempat ia duduk. Ia berusaha meraih, tapi terlambat. Seseorang terlebih dulu mengambilnya. Padahal mereka sudah memiliki jatah masing-masing. Mungkin karena panik, jadi mereka asal mengambil untuk menyelamatkan diri.

    Menit ketiga, awak kapal sudah tak terlihat. Kapal beserta isinya hanyut di dasar laut. Tidak ada lagi bunyi maupun teriakan penumpang. Mereka bagaikan semut yang tenggelam dalam semangkuk bakso. Habis sudah nasib Kang Parjo. Hanyut bersama air laut yang asin. Sudah tak bernyawa. Tubuhnya hilang. Entah dibawa arus laut atau dimakan penghuni laut. Yang pasti jenazah Kang Parjo tidak berhasil ditemukan oleh TNI, Polri, dan Tim SAR.

    Berita duka itu, langsung terdengar telinga tua Sumiati. Ia tidak percaya. Berat memang ditinggalkan separuh nyawa dalam suatu kehidupan. Ia harus beralih menjadi punggung keluarga demi anaknya. Semenjak kejadian itulah, setiap pagi ia keliling kampung untuk menjajankan kue basah. Sorenya mengantarkan cucian kering para tetangga. Dan, terkadang malamnya ia masih melayani jasa menjahit. Padahal raganya sudah mengamuk minta istirahat, tapi Sumiati masih dapat menghalaunya. Berat sekali hidup Sumiati. Begitupula dengan anaknya terpaksa putus sekolah karena tidak mampu melunasi uang SPP setiap bulannya.

***
    Sinar matahari merambat pelan dari sela ranting pohon cersen yang rimbun tertutup daun. Cahayanya indah membentuk garis tatkala tepat di depan mulut rumah Sumiati. Seperti hari sebelumnya, setiap kali aku pulang dari kampus. Sumiati duduk seorang diri di teras rumahnya yang berdebu. Daun-daun kering bercengkerama menemani balutan sepi suatu kehidupan. Tatapannya dalam, namun kosong. Sumiati semakin hari makin tidak terurus saja. Tubuhnya kecil terlihat semakin kecil dan kurus dimakan waktu.

    Dengan baju penuh bercak getah, ia hanyut. Kusam, lusuh, dan kucel baju itu sedikit terbuka sehingga terlihat dada datar Sumiati bergelombang. Tulang-tulang rusuknya seakan-akan ingin keluar terbebas dari tubuhnya. Rambut yang dulu anggun panjang terurai sepantat itu, kini seperti bulu kucing: putih-kecoklatan dan rontok tatkala terkena sentuhan gigi-gigi sisir. Satu per satu rambutnya berjatuhan dengan sendirinya.

    “Man, Emak lapar. Ambilkan makanan!” kata Sumiati suatu ketika.
    Tidak ada jawaban.

    “Man...!” seru Sumiati dengan nada tinggi. Ia mulai marah. Wajahnya memerah.
    Masih sama, tidak ada jawaban. Berkali-kali ia memanggil anaknya, Irman. Sumiati tidak menyerah. Ia kembali berteriak-teriak hingga membangunkan Ayahku yang tertidur di sofa. Beberapa setelah itu, ia terdiam menghadap ke depan dengan wajah terlipat, tepat pandangannya pada jalanan besar di depan sana.

    Tiba-tiba, sumiati berdiri dan berlarian. Sesekali ia pun berteriak menyebut nama anaknya ‘Man’ ketika ada seorang anak laki-laki melintang di matanya.

    Sumiati bertingkah. Ia sama sekali tidak menghiraukan bajunya terbuka, hingga nampaklah palung dada bergelombang itu. Kaki tanpa alas. Tak hentinya berlari melawan panas maupun hujan. Dari pagi hingga siang, kadang juga sore hingga terdengar bedug masjid ditabuh, ia baru bisa berhenti. Tidak ada satupun mampu mengendalikan tingkah Sumiati. Ibuku pun sering bosan dibuatnya.

    Aku tahu persis gerak-geriknya yang aneh, manja pula setiap saat. Aku pikir-pikir tak pantas juga aku mengatakan demikian. Sumiati butuh kasih sayang. Sumiati butuh pendampingan. Sumiati butuh seseorang di hidupnya. Tekanan dan ujian hidupnya membuat ia seperti sekarang ini. Kerasnya kehidupan sudah dilahap mentah-mentah, habis. Bila saja aku berada diposisinya. Bisa jadi aku tak setabah, sekuat, dan senerima Sumiati.

    Iba rasanya melihat tingkah Sumiati. Setiap hari pekerjaannya hanya: berteriak-teriak, berlarian, dan melamun di depan teras. Namun uniknya dari diri Sumiati, ketika hati dan pikirannya tenang, ia juga menyapu dan memasak, tapi itu sangat jarang.

    Untung saja masyarakat sekitar mampu memahami kondisi Sumiati. Warga secara bergantian memberikan makanan dan memberi baju, serta merapikan rambutnya yang tinggal segelintir itu. Termasuk Ibuku. Suatu ketika, Ibuku berniat memandikannya. Sumiati rewel. Ia tidak mau menyentuh maupun terkena air. Justru ia berlari tanpa baju hingga jalanan besar. Bajunyadiangkat tinggi-tinggi, lalu diputar-putarkan di atas kepala. Wajahnya berbinar-binar. Senyumnya merekah ditambah gelagak tawanya nyaring menusuk telinga.

    Hari itu, aku duduk di teras depan rumah sembari belajar menyongket. Sesekali mataku kuarahkan pada Sumiati. Miris. Ia seperti tidak ada beban dalam hidupnya. Baginya hidup yang dijalani saat ini baik-baik saja seperti berjalan di atas angin. Namun, semua itu adalah sebaliknya. Antara sedih dan senang tidak ada bedanya. Dalam larian Sumiati, tak jarang ia memanggilku. Aku hanya membalas dengan senyuman kecil. Kadang pula ia sempat menghampiriku, duduk bersama bercerita ketika hati dan pikirannya jernih.

    “Itu! Di sana biasa Irman bermain kelereng,” kata Sumiati menunjuk suatu tenpat, di bawah pohon cersen biasa anaknya bermain.

    Aku tersenyum dibuatnya. Sumiati bercerita tentang anaknya. Bicaranya tidak terlalu jelas. Ada beberapa kata yang tidak kumengerti. Di tengah-tengah bercerita, kolam bening Sumiati meledak, mengalir deras bak air hujan. Aku menatap Sumiati dalam hati iba. Perjalanan hidupnya sungguh pahit. Bagaimana tidak? Setelah ia ditinggal suaminya, Kang Parjo tewas dalam perjalanan mencari nafkah. Tak lama dari itu, anaknya putus sekolah dan menyusul Kang Parjo ke surga keabadian.

    Uang SPP 5 bulan tidak mampu Sumiati bayar, sehingga mau tidak mau Irman harus keluar. Beruntunglah Irman anak yang baik. Ia mampu memahami keadaan Ibunya. Ia juga tidak berontak seperti anak pada seusianya. Irman ikhlas menerima semua itu. Karena ia tidak ingin membuat Ibunya pusing dan sedih memikirkannya, katanya suatu hari ketika kami mengobrol kecil di bawah pohon cersen yang rimbun itu.

    Dua bulan lebih dua minggu kira-kira. Ketika kau hendak mencari batu di sungai. Di sana terlihat Irman tengah memandikan kambing-kambingnya. Sepanjang kami di sana, tak lelah kami bercerita hingga terdengar tawa kecil kami yang membuat perut terasa kaku. Tapi sayang, Ibu memanggilku, dan aku pun ikut pulang bersama Ibu. Sedang Irman masih di sungai bersama kambing-kambingnya.

    Suara guntur di langit terdengar bertalu-talu. Cahaya kilat dari sudut-sudut langit saling berpacu. Awan menggumpal dari ujung timur hingga barat. Suasana berubah gelap padahal hari masih terlalu siang. Mungkin akan datang hujan, pikirnya waktu itu.

    Benar. Air hujan mulai menetes sebutir-butir membasahi bumi. Irman masih ada di sungai tengah mandi setelah bergulat memandikan kambing-kambingnya. Tapi dasar anak seusianya. Ia tidak meghiraukan hujan. Justru ia begitu senang dan menikmati dengan menyibak-nyibak air sembari bernyanyi dolanan –Jamuran.

    Irman terlena. Hujan hari itu semakin deras sehingga membuat arus air sungai berubah kecoklatan dan banjir. Kambing milik Irman terbawa banjir. Dengan segera ia berlari mengejar kambing itu. Kambing Irman tak lagi terlihat. Bulunya sama dengan air sunga waktu itu. Irman gelagapan. Ia berteriak minta tolong tapi tidak ada sepasang telinga yang mendengar. Pasalnya letak sungai itu jauhdari perumahan warga. Selang satu jam setelah itu, Irman ditemukan warga dalam kondisi terbujur kaku. Tidak lagi bernyawa. Jenazahnya di bawa ke rumah dan dikuburkan secara islami.

    Lagi-lagi hati Sumiati tergoncang. Suaminya meninggal karena air. Begitupula dengan anaknya. Semenjak hari itu, Sumiati sangat membenci yang namanya air. Air adalah malapetaka, celetuknya suatu hari.
***
    “Man... Man! Emak mau jalan-jalan. Antarkan Emak!” teriak Sumiati sembari menggaruk-garukkan kepalanya botak.
    Tidak ada jawaban.
    Tiba-tiba, karena begitu jengkelnya Sumiati mengambil sebuah batu dan dilemparnya batu itu ke rumahnya. Kaca depan pecah. Aku sedari tadi di kamar membaca buku, sontak lari ke luar. Di sana kulihat Sumiati merengek-rengek dengan kaki menggasur-gasurkan tanah. Ibuku menghampirinya dan menghentikan tingkahnya. Tapi dasar Sumiati, ia tak berhenti bertingkah malah makin menjadi-jadi dibuatnya.
    “Husssh, itu rumahmu. Kenapa kau lempar batu?” kata Ibuku pelan sembari memegang tangan kiri Sumiati.
    Sumiati masih merengek. Kemudian, menatap tajam Ibuku dengan tangan satunya membawa batu berukuran lebih besar.
    “Sumiati!”
    “Suuum...!”
    Suara para tetangga bersautan turut menghentikan tingkah Sumiati.

*Penulis adalah Mahasiswi STKIP PGRI Ponorogo semester 3

0 Response to "Air Bagi Sumiati"

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.