Luhut Ngotot Lanjutkan reklamasi, Yusril: Mengabaikan Putusan Pengadilan Itu Arogan

SinarRakyat.Com |Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) secara tegas menolak reklamasi Teluk Jakarta. Mereka menilai banyak aspek yang dilanggar dalam proyek senilai Rp 300 triliun lebih itu. Mulai dari aspek lingkungan, ekonomi masyarakat hingga keamanan.

Demikian pernyataan Ketua BEM UI Arya Ardiansyah dalam rilisnya yang diterima redaksi, hari ini.

Sikap tegas itu disampaikan BEM UI mensikapi keputusan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan yang akan melanjutkan proyek reklamasi Teluk Jakarta. Bahkan, Luhut menyebut tidak ada masalah meski sempat dihentikan pada pertengahan tahun ini.

"Gugatan di PTUN itu telah dimenangkan oleh rakyat, artinya di situ ada penangguhan dan harus dihentikan. Di situ kan sudah ada banyak pertimbangan, aspek lingkungan, aspek hukum, dan segalanya," jelas Arya Ardiansyah.

Arya mengatakan, dari aspek lingkungan, proyek reklamasi Teluk Jakarta telah merusak lingkungan ekosistem pantai. Hal tersebut didasarkan pada kajian yang dilakukan Komite Bersama reklamasi Pantai Utara Teluk Jakarta. Kajian tersebut merekomendasikan agar proyek reklamasi dihentikan karena terbukti berdampak buruk dengan mencermarkan dan merusak lingkungan.

Terkait "ngototnya" Menteri Luhut melanjutkan Reklamasi itu mendapat sindiran dari pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra.  ‏Lewat akun twitter-nya @Yusrilihza_Mhd mantan Mensesneg ini mengatakan, "Penguasa yang arogan adalah penguasa yang mengabaikan hukum dan melecehkan putusan pengadilan,"

Pada bagian lain, Yusril menambahkan, "Penguasa mana saja di dunia ini yang tdk patuh kepada hukum akan mengalami keruntuhan. Tinggal tunggu waktu saja," imbuhnya.

(R/Umi)


0 Response to "Luhut Ngotot Lanjutkan reklamasi, Yusril: Mengabaikan Putusan Pengadilan Itu Arogan"

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.