Presiden akan Hadiri Milad 90 Tahun Ponpes Gontor

SinarRakyat.Com | Bertempat di Gedung Nusantara V Komplek DPR/MPR RI, Panitia Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) bekerjasama dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) menggelar acara Dialog Kebangsaan, pada Senin (8/8).

Salah satu acara yang dilaksanakan dalam rangka memperingati milad Gontor yang ke-90 tahun tersebut bertemakan “Peran Konstruktif Umat Islam untuk Indonesia”.

“Sesuai tema yang ada, melalui acara dialog ini, Gontor didukung MPR RI berupaya mengungkap sekaligus menyadarkan kita akan kontribusi besar umat Islam dan pesantren untuk negeri ini,” tutur Ustadz Akrimul Hakim, Koordinator Panitia Pelaksana Peringatan 90 Tahun Gontor di Jakarta.

Pondok Pesantren (ponpes)  di seluruh Indonesia  merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Termasuk Pesantren Modern Gontor Darussalam, yang harus terus melanjutkan nilai-nilai Gontor dalam mengisi kemerdekaan RI.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid ketika membuka acara dialog kebangsaan kerjasama MPR  dengan Panitia Peringatan 90 Tahun Gontor di Gedung MPR, Jakarta, Senin (8/8/2016).

“Kegiatan kerjasama MPR  dengan panitia peringatan 90 tahun Gontor ini sebagai peristiwa bersejarah dalam sosialiasi empat Pilar MPR RI. Meski MPR RI sudah kerjasama dengan berbagai institusi, dan ormas di seluruh Indonesia,” demikian Hidayat Nur Wahid.

Hadir sebagai pembicara pembicara antara lain Dr. Jimly Asshiddiqie, Dr. Yudi Latief, Ketua Panitia 90 Tahun Gontor Dr. Ismail Budi Prasetyo, dan lain-lain. Kerjasama ini kata Hidayat yang juda alumni Gontor,  menunjukkan bahwa Gontor terbuka untuk kerjasama dengan institusi manapun juga MPR RI.

Apalagi alumni Gontor, seperti  almarhum KH Idham Cholid  juga pernah menjadi Ketua Umum PBNU dan juga  Ketua MPR di era pemerintahan Bung Karno. 

“Saya sendiri pernah menjadi Ketua MPR RI pada 2004-2009, dan Wakil Ketua MPR RI pada periode 2014-2019,” ujarnya.

Dengan demikian, maka Gontor ini menurut Hidayat memang tidak berjarak dengan institusi negara, karena sejak awal terlibat dalam perjuangan kemerdekaan NKRI, menjadi korban G 30 S PKI 1965. Gontor selalu bersama TNI dan ormas Islam lainnya untuk menyelamatkan Indonesia.

Karena itu dalam konteks NKRI kata politisi PKS itu, pesantren harus menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk mengisi kemerdekaan RI, agar bangsa dan negara ini tidak menjadi komunis, kapitalis, liberalis dan sebagainya.

“Pesantren harus terlibat aktif dalam mengisi kemerdekaan RI ini agar negara ini tidak menjadi komunis, liberalis, maupun kapitalis,” ujarnya.

Prof Jimly Asshiddiqie berharap Gontor menjadi inspirasi bagi Indonesia, yang berhasil mengintegrasikan pendidikan pesantren dan modernisasi. Ini mengingat Gontor juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan bangsa ini, maka semua harus tunduk kepada UUD NRI 1945.

“UUD 1945 itu sebagai kesepakatan kebangsaan yang sama dengan Piagam Madinah maupun ‘Perjanjian Hudaibiyah’ (antara kaum muslim Madinah dan kaum musyrikin Makkah),” kata Ketua DKPP itu.

Karena itu Jimly berharap, umat Islam Indonesia tidak lagi menjadi korban adu-domba umat Islam sendiri dan mereka yang anti terhadap Pancasila.

“Gontor harus menjadi factor dan inspirasi dalam membangun peradaban Islam Indonesia,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ismail Budi Prasetyo mengatakan jika 90 tahun Gontor ini tepatnya jatuh pada 19 September 2016. Sebuah perjalanan panjang, penuh perjuangan dan disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia.

“Alhamdulillah sampai ini bisa hadir dan diterima oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu puncak peringatan 90 tahun Gontor akan digelar pada 20 Agustus yang akan dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla, dan ditutup oleh Presiden RI Joko Widodo, pada 29 Agustus 2016 di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

“Pada puncak 90 tahun inilah yang biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh alumni Gontor,” katanya.


0 Response to "Presiden akan Hadiri Milad 90 Tahun Ponpes Gontor"

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.